Jumat, 18 November 2016

MENYEGARKAN KEMBALI (REFRESH)




Pikiran (otak) merupakan unit pusat pengelolaan (central processor unit) yang mengelolah berbagai masukan program yang akan dikerjakan oleh manusia.

Otak / pikiran memang memiliki ruang yang tidak terbatas, namun karena otak / pikiran dalam suatu wadah (chasing) tubuh manusia maka memiliki keterbatasan beban muat.

Tatkala beban muat otak pikiran dalam diri manusia memiliki beban yang melebih kapasitas (overload) menyebabkan pengambilan keputusan maupun realisasi aktifitas (loading) mengalami keterlabatan, bahkan bisa menyebabkan kesalahan sistem (system error).

Tatkala telah overloading, maka perlu menyegarkan kembali (refresh) otak pikiran kita. Langkah utama dalam menyegarkan kembali otak pikiran kita adalah mengembalikan serta membuka kembali lembaran perjalanan hidup kita dengan meneliti kembali Misi utama apakan yang dikerjakan oleh kita dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.

Merenungkan kembali misi utama dari setiap langkah dan perjalanan hidup ini. Susun kembali misi utama ini dalam suatu tatanan mengembalikan diri fokus dalam mencapai misi tersebut.


JEMBER HERITAGE MANAGAMENT
Museum Boemi Poeger
Y. Setiyo Hadia
Jember, 19 November 2016

Rabu, 27 Juli 2016

PENCIL DRAWING

Pencil Drawing istilah kerennya dari suatu teknik menggambar / melukis menggunakan media pencil hitam putih. Kemampuan melakukan Pecil Drawing menunjukkan talenta kreatif yang menyelarasan kemampuan indra kreatifitas dengan obyek realita sehingga menghasilkan karya lukis pencil yang luhur.

Hasil teknik Pencil Drawing disukai oleh banyak kalangan dibanding foto hasil jepretan kamera. Hasil dari teknik Pencil Drawing lebih mengesankan vintage / tempo dulu yang akhir-akhir ini banyak digemari oleh banyak kalangan.

Bung Sony Pasha, salah satu pelukis Jember yang tergabung dalam Komunitas Perupa Jember (KPJ), yang menggunakan teknik Pencil Drawing dalam karya-karyanya. Bung Sony Pasha ini setiap harinya mangkal di trotoar depan Kantor DPRD Kabupaten Jember.

Sudah ribuan karya lukis teknik pencil drawing yang dihasilkan oleh Bung Sony Pasha. Salah satunya adalah Potret Diri penulis yang langsung menjadi model lukis pencil drawing yang dikerjakan secara "on the spot" oleh Bung Sony Pasha.

Y. Setiyo Hadi
Jember, 27 Juli 2016

Minggu, 24 Juli 2016

PERJALANAN BERSAMA MASA LALU



Tapak perjalanan umat manusia seiring dengan waktu meliputi tiga fase utama, yaitu: masa lalu, masa kini dan masa depan. Di belakang, yang sudah terjadi dengan berbagai peninggalan, menjadi input (masukan) bagi jalan di masa kini dan masa depan. Masa kini menjadi masa lalu di masa depan, demikian seterusnya.

Jalan dulu, kini dan depan berada dalam lingkungan alam yang menyatu dalam waktu. Alam terciptakan sebagai sumber bagi berbagai kebutuhan hidup dan kehidupan manusia. Alam menjadi perekam dari budi dan daya yang dilakukan manusia dari jaman dulu, kini sampai masa depan.

Alam menjadi peninggalan yang abadi (natural heritage) dalam perjalanan hidup dan kehidupan manusia. Alam menjadi saksi dan perekam dari perjalanan serta dinamika kehidupan umat manusia yang senantiasa membudi dan mendayakan alam semesta.

Upaya budi dan daya yang dilakukan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menggunakan sumber daya alam yang tersedia di sekitarnya mewujudkan berbagai bentuk kebudayaan dan peradaban. Hasil serta peninggalan dari upaya budi dan daya manusia yang dinamis menjadi bagian dari peninggalan yang menunjukkan hasil dari upaya manusia melakukan budi dan daya alam semesta (cultural heritage).

Alam (natural heritage) dan upaya budidayanya (cultural heritage) yang dilakukan manusia berada dalam kerangka waktu dulu (past), kini (present) dan akan datang (future). Interaksi dari kerja budi dan daya manusia dalam lingkungan alam semesta membentuk suatu bentang alam yang terpengaruhi oleh upaya manusia (cultural landschape heritage).

Interaksi manusia dalam alam semesta berada dalam lingkup waktu yang terintegrasi dalam masa dulu, kini dan masa depan. Hidup ini tidak lepas dari interaksi ini: alam dan manusia, menjadi satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.


Y. Setiyo Hadi
Kencong, 24 Juli 2016.

Rabu, 13 Juli 2016

ASAL OESOEL BATOE OELER (Bagian 2) Lokasi Watu Ulo dan Kampung Watu Ulo




Watu Ulo benar-benar telah mendunia sejak tahun 1800-an.

“Pean ojo ngawur mas ……..  pean kan belum nongol neng dunyo iki wektu iku ……. Kemeroh ae pean iki”. Salah satu sohib protes, tatkala diungkapkan bahwa Watu Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an.

“Opo buktine lek Watu Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an”, sohib itu ternyata penasaran dengan pernyataan Watu Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an.

Certitanya begini kawan …….

Catatan perjalanan dan penelitian Thomas Horsfield “Reis Naar De Ooster Streken Van Java” tahun 1806. Pada bulan Juni 1806, Thomas Horsfield melakukan perjalanan dalam rangka excursie (kunjungan) dari La Madjang (Lumajang sekarang) menuju wilayah Poegar (penyebutan Puger).

Keterangan lebih lanjut dari Thomas Horsfield menyatakan wilayah Poegar ini memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut

  • Bagian utara mulai kaki der Lamongansche (Gunung Lemongan) dan Ijangsche Gebergten (Pegunungan Ijang / Argopura) yang meliputi wilayah Banger (Probolinggo), Bisoeki (Besoeki) dan Panaroekan (Penarukan);
  • Bagian barat dibatasi oleh La Madjang (Lumajang);
  • Bagian Selatan merupakan lautan yang terhampar deretan dari barat ke timur pantai laut Selatan;
  • Bagian timur berbatasan dengan Blambangan (oosten Blambangan = Blambangan timur).

Wilayah Poegar ini, seperti yang disebutkan Thomas Horsfield, dikenal sebagai het westersche Blambangan (Blambangan Bagian Barat). Selain Poegar sebagai suatu kewilayahan, Poegar juga disebut sebagai De Hoofdplaats ligt aan’t Zuider-strand (Ibukota yang terletak di Pantai Selatan).

Horsfield dari kota Poegar melakukan kunjungan ke Dessa Sabran (desa Sabrang). Kemudian dilanjutkan perjalanan menuju dekat dengan perbatasan Blambangan, Horsfield sampai di suatu tempat di Pantai Selatan yang dia sebut sebagai Batoe-oeloe.

Hal ini menunjukkan, bahwa penamaan Batoe-oeloe (sekarang dikenal sebagai Watu Ulo) telah ada pada tahun 1806 dan telah dikenal oleh bangsa Eropa seperti ditunjukkan dalam catatan perjalanan Thomas Horsfild yang dilakukan pada bulan Juni 1806. Dalam berita-berita Eropa lainnya disebut dengan sebutan lainnya, antara lain disebut sebagai Batoe oeler atau Watoe Oeloh.Hal ini menunjukkan Batoe Oeloe merupakan salah satu tempat kunjungan (excursie).

Nach ….. itu bukti awal bahwa Watu Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an. Dengan demikian, nama Watu Ulo dengan berbagai penyebutan yang senada telah ada sebelum tahun 1800 sebagai bagian Wilayah Poegar (Blambangan Barat) yang terletak di dekat perbatasan Poegar dengan Blambangan (Blambangan Timur).

Selanjutnya …………….. terbukti ada pembedaan antara Watu Ulo dengan Kampung Ulo ….. ini dibuktikan dari kunjungan penelitian

Verbeek dan Fennema Description Geologique De Java Et Madoura yang diterbikan pada tahun 1896

  • Menjelaskan bahwa Kali Sanen mengalir bermuara di Watoe Oulo dengan anak sungai Kali Mayang (halaman 59)
  • Lebih detil lagi menjelaskan: Watoe Oulo merupakan sebuah desa yang terletak di pantai timur dari Puger, di sini ditemukan beberapa pulau seperti P Sarat, P Toumpang, P Srojo, dan beberapa pulau kecil lainnya. Bukit Srojo merupakan pulau yang terbesar dengan ketinggian sekitar 108 meter dpl (halaman 61).

Penggambaran tentang letak Kampoeng Watoe Oulo yang ada pada tahun 1863 dapat dilihat dari peta geologi dari Verbeek dan Fennema Carte Geologique De Java Et Madoura Et Feuilles Annexes.
Posisi jelas letak Kampoeng Watoe Oelo digambarkan oleh H. Witkamp dalam tulisannya “De Omgeving Van Watoe Oeloh (Besoeki)” yang dimuat dalam jurnal ilmiah De Tropische Natuur: Orgaan Van De Nederlandsch Indische Natuurhistorische Vereening, November 1938, halaman 185 sampai 192. Kg (Kampoeng) Watoe Oulo itu merupakan Kampung Nelayan Payangan saat ini yang terdapat beberapa pulau, yaitu: P Serini, P Sarat, P Mantikan, P Toempang, P Sraja, P Pawon serta P Mangek.

Itu dulu ya ….. cerita tentang riwajat dahoeloe kala dari Watu Ulo.

Oh ya …. Sebelum diakhiri sementara  bagian tulisan ini ……. Terdapat informasi bahwa makam tua yang sejak tahun 1920-an sudah diidentifikasi keberadaan sebagai pemangku Kampung Watu Ulo adalah makam PA MANGKOE ……………. Untuk informasi lebih detilnya tentang makam PA MANGKOE … penulis akan melakukan ziarah ke makam PA MANGKOE serta menggali informasi dari masyarakat tentang PA MANGKOE itu siapa sebenarnya dan bagaimana kiprahnya di masa hidupnya …………. Tunggu kabar selanjut nya ………………. (To Be Continued)

Sumber:
Thomas Horsfield “Reis Naar De Ooster Streken Van Java” yang diterbitkan pada tahun 1807.
Dr. R. D. M. Verbeek et R. Fennema, Description Geologique De Java Et Madoura, Tome I,  Amsterdam: Joh. G. Stemler Cz., 1896.
Dr. R. D. M. Verbeek et R. Fennema, Carte Geologique De Java Et Madoura Et Feuilles Annexes, Amsterdam: Joh. G. Stemler Cz., 1896.
H. Witkamp, “De Omgeving Van Watoe Oeloh (Besoeki)” yang dimuat dalam jurnal ilmiah De Tropische Natuur: Orgaan Van De Nederlandsch Indische Natuurhistorische Vereening, November 1938, halaman 185 sampai 192.

Minggu, 10 Juli 2016

ASAL OESOEL BATOE OELER (TERBENTUKNYA WATU ULO) (Bagian 1)




Oleh
Y. Setiyo Hadi

Penamaan unsure alam seringkali diasosiasikan dengan kehidupan binatang maupun unsure alam lainnya untuk mempermudah penunjukan atau identifikasi suatu tempat. Hal ini terjadi dengan batu yang bersisik bagaikan ular yang terbentuk dari proses alam kemudian disebut oleh warga secara turun temurun sebagai Batoe Oeler atau Watu Ulo.

Terbentuknya bebatuan merupakan bagian dari kajian geologi yang terkait dengan sejarah alam (natuurhistorisch). Masyarakat perlu disajikan pemahaman yang rasional serta realistic tentang suatu wilayah dan bukan untuk sekedar mengambil keuntungan materialnya aja, sehingga mengabaikan factor edukasi terhadap perbaikan sumber daya manusia.

Keterangan tentang terbentuknya batu bersisik, yang kemudian dikenal sebagai Watu Ulo, bisa diidentifikasikan dari sumber tulisan Van Verbeek En Fennema: Geologische beschrijving van Java en Madoera 1896 dan juga risalah tulisan dari insinyur pertambangan Y. Koperberg dalam Het Jaarboek Mijnwezen 1899.

Wilayah Watu Ulo di sebelah barat merupakan deretan Pegunungan Watangan dan di sebelah timur dibatasi dengan Kali Majang. Verbeek mencatat bahwa wilayah ini terdapat batuan mineral berupa batuan konglomerat, batuan kapur dan batuan breksi yang berasal karena proses vulkani dan didominasi material andesit. Batuan ini merupakan terjadi dari proses letusan gunung berapi, demikian yang dinyatakan oleh Verbeek.

Verbeek juga mencatat ditemukan pula berbagai fosil, diantaranya karang dan foraminifera yang berada dilapisan yang dibentuk pada era Miosen. Era Miosen ini merupakan skala waktu geologi  yang berlangsung antara 23 juta tahun sampai 5 juta tahun yang lalu.

Sedikit mengenai foramanifera, Foraminifera bentik hidup di lapisan sedimen hingga kedalaman beberapa puluh sentimeter, sedangkan Foraminifera planktonik hidup didaerah perairan. Foraminifera planktonik tersebar luas di laut-laut terbuka dengan kedalam air lebih dari 10 meter. Brdasarkan ukuran mikroskopis, kekerasan cangkang, serta sebaran geografis dan geologisnya,  jenis hewan ini sangat potensial untuk digunakan sebagai petunjuk kondisi suatu lingkungan, baik pada masa kini maupun masa lalu.

Penyebutan Kampoeng Watoe Oelo, seperti yang dicatat dan dipetakan oleh Verbeek, Verbeek memperlihat yang dimaksud Kampoeng Watoe Oelo pada tahun 1896 berlokasi di pantai Payangan (desa Sumberejo Ambulu). Kampoeng Watoe Oelo dalam penggambaran Verbeek di sana terdapat jajaran pulau kecil, yaitu: Pulau Srini, Pulau Sarat dan Pulau Srojo.

Pulau Srojo terletak di paling timur yang juga dikitari pulau-pulau kecil lainnya. Pulau-pulau kecil tersebut antara lain P. Pawon, P Pawon, serta deretan P Mantikan, juga P Tumpang. Terbentuknya pulau-pulau ini merupakan magma dari aktifitas vulkanik (gunung berapi).

Sedangkan batu yang bersisik yang dikenal dengan nama Batoe Oeler atau Watoe Oelo yang kemudian disebut sebagai Watu Ulo, dalam penyebutan orang Belanda dengan sebutan de "steenen slang", berada di sisi barat Kampoeng Watoe Oelo. Batu bersisik ini merupakan secara geologis terjadi akibat proses vulkanik yang terjadi ribuan tahun lamanya, di mana aliran lava basalt
juga sampai ke laut.


(To Be Continued)


Kencong, 10 Juli 2016 (Y. Setiyo Hadi)

Sumber:
H. Witkamp, “De Omgeving Van Watoe Oeloh (Besoeki)”, DE TROPISCHE NATUUR, Jaargang 27, November 1938, hlm. 185 sampai 192.
Dr. R. D. M. Verbeek et R. Fennema, Description Geologique De Jawa Et Madoura, Amsterdam: Joh. G. Stemler Cz, 1896.
Dr. R. D. M. Verbeek et R. Fennema,Geologische Kaart Van Java en Madoera, 1896.