Watu Ulo benar-benar telah
mendunia sejak tahun 1800-an.
“Pean ojo ngawur mas …….. pean kan belum nongol neng dunyo iki wektu
iku ……. Kemeroh ae pean iki”. Salah satu sohib protes, tatkala diungkapkan
bahwa Watu Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an.
“Opo buktine lek Watu Ulo telah
mendunia sejak tahun 1800-an”, sohib itu ternyata penasaran dengan pernyataan
Watu Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an.
Certitanya begini kawan …….
Catatan perjalanan dan penelitian
Thomas Horsfield “Reis Naar De Ooster
Streken Van Java” tahun 1806. Pada bulan Juni 1806, Thomas Horsfield
melakukan perjalanan dalam rangka excursie
(kunjungan) dari La Madjang (Lumajang sekarang) menuju wilayah Poegar
(penyebutan Puger).
Keterangan lebih lanjut dari Thomas
Horsfield menyatakan wilayah Poegar ini memiliki batas-batas
wilayah sebagai berikut
- Bagian utara mulai kaki der Lamongansche (Gunung
Lemongan) dan Ijangsche Gebergten (Pegunungan Ijang / Argopura) yang meliputi
wilayah Banger (Probolinggo), Bisoeki (Besoeki) dan Panaroekan
(Penarukan);
- Bagian barat dibatasi oleh La Madjang (Lumajang);
- Bagian Selatan merupakan lautan yang terhampar
deretan dari barat ke timur pantai laut Selatan;
- Bagian timur berbatasan dengan Blambangan (oosten
Blambangan = Blambangan timur).
Wilayah
Poegar
ini, seperti yang disebutkan Thomas Horsfield, dikenal sebagai het westersche Blambangan (Blambangan Bagian Barat). Selain
Poegar sebagai suatu kewilayahan, Poegar juga disebut sebagai De
Hoofdplaats ligt aan’t Zuider-strand (Ibukota yang terletak di Pantai
Selatan).
Horsfield dari kota Poegar melakukan
kunjungan ke Dessa Sabran (desa Sabrang). Kemudian dilanjutkan perjalanan
menuju dekat dengan perbatasan Blambangan, Horsfield sampai di suatu tempat di
Pantai Selatan yang dia sebut sebagai Batoe-oeloe.
Hal ini menunjukkan, bahwa penamaan Batoe-oeloe
(sekarang dikenal sebagai Watu Ulo) telah ada pada tahun 1806 dan telah dikenal
oleh bangsa Eropa seperti ditunjukkan dalam catatan perjalanan Thomas Horsfild
yang dilakukan pada bulan Juni 1806. Dalam berita-berita Eropa lainnya disebut
dengan sebutan lainnya, antara lain disebut sebagai Batoe oeler atau Watoe
Oeloh.Hal ini menunjukkan Batoe Oeloe merupakan salah satu
tempat kunjungan (excursie).
Nach ….. itu bukti awal bahwa Watu
Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an. Dengan demikian, nama Watu Ulo dengan
berbagai penyebutan yang senada telah ada sebelum tahun 1800 sebagai bagian
Wilayah Poegar (Blambangan Barat) yang terletak di dekat perbatasan Poegar
dengan Blambangan (Blambangan Timur).
Selanjutnya …………….. terbukti ada
pembedaan antara Watu Ulo dengan Kampung Ulo ….. ini dibuktikan dari kunjungan
penelitian
Verbeek dan Fennema Description
Geologique De Java Et Madoura yang diterbikan pada tahun 1896
- Menjelaskan bahwa Kali Sanen mengalir bermuara
di Watoe Oulo dengan anak sungai Kali Mayang (halaman 59)
- Lebih detil lagi menjelaskan: Watoe Oulo
merupakan sebuah desa yang terletak di pantai timur dari Puger, di sini
ditemukan beberapa pulau seperti P Sarat, P Toumpang, P Srojo, dan beberapa
pulau kecil lainnya. Bukit Srojo merupakan pulau yang terbesar dengan
ketinggian sekitar 108 meter dpl (halaman 61).
Penggambaran tentang letak
Kampoeng Watoe Oulo yang ada pada tahun 1863 dapat dilihat dari peta geologi
dari Verbeek dan Fennema Carte Geologique De Java Et Madoura Et
Feuilles Annexes.
Posisi jelas letak Kampoeng Watoe
Oelo digambarkan oleh H. Witkamp dalam tulisannya “De Omgeving Van Watoe Oeloh
(Besoeki)” yang dimuat dalam jurnal ilmiah De Tropische Natuur: Orgaan Van De
Nederlandsch Indische Natuurhistorische Vereening, November 1938,
halaman 185 sampai 192. Kg (Kampoeng) Watoe Oulo itu merupakan Kampung Nelayan
Payangan saat ini yang terdapat beberapa pulau, yaitu: P Serini, P Sarat, P
Mantikan, P Toempang, P Sraja, P Pawon serta P Mangek.
Itu dulu ya ….. cerita tentang
riwajat dahoeloe kala dari Watu Ulo.
Oh ya …. Sebelum diakhiri
sementara bagian tulisan ini ……. Terdapat
informasi bahwa makam tua yang sejak tahun 1920-an sudah diidentifikasi
keberadaan sebagai pemangku Kampung Watu Ulo adalah makam PA MANGKOE ……………. Untuk
informasi lebih detilnya tentang makam PA MANGKOE … penulis akan melakukan
ziarah ke makam PA MANGKOE serta menggali informasi dari masyarakat tentang PA
MANGKOE itu siapa sebenarnya dan bagaimana kiprahnya di masa hidupnya …………. Tunggu
kabar selanjut nya ………………. (To Be Continued)
Sumber:
Thomas Horsfield “Reis Naar De Ooster Streken Van Java” yang
diterbitkan pada tahun 1807.
Dr. R. D. M. Verbeek et R.
Fennema, Description Geologique De Java Et Madoura, Tome I, Amsterdam: Joh. G. Stemler Cz., 1896.
Dr. R. D. M. Verbeek et R.
Fennema, Carte Geologique De Java Et Madoura Et Feuilles Annexes, Amsterdam:
Joh. G. Stemler Cz., 1896.
H. Witkamp, “De Omgeving Van
Watoe Oeloh (Besoeki)” yang dimuat dalam jurnal ilmiah De Tropische Natuur: Orgaan Van
De Nederlandsch Indische Natuurhistorische Vereening, November 1938,
halaman 185 sampai 192.