Rabu, 13 Juli 2016

ASAL OESOEL BATOE OELER (Bagian 2) Lokasi Watu Ulo dan Kampung Watu Ulo




Watu Ulo benar-benar telah mendunia sejak tahun 1800-an.

“Pean ojo ngawur mas ……..  pean kan belum nongol neng dunyo iki wektu iku ……. Kemeroh ae pean iki”. Salah satu sohib protes, tatkala diungkapkan bahwa Watu Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an.

“Opo buktine lek Watu Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an”, sohib itu ternyata penasaran dengan pernyataan Watu Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an.

Certitanya begini kawan …….

Catatan perjalanan dan penelitian Thomas Horsfield “Reis Naar De Ooster Streken Van Java” tahun 1806. Pada bulan Juni 1806, Thomas Horsfield melakukan perjalanan dalam rangka excursie (kunjungan) dari La Madjang (Lumajang sekarang) menuju wilayah Poegar (penyebutan Puger).

Keterangan lebih lanjut dari Thomas Horsfield menyatakan wilayah Poegar ini memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut

  • Bagian utara mulai kaki der Lamongansche (Gunung Lemongan) dan Ijangsche Gebergten (Pegunungan Ijang / Argopura) yang meliputi wilayah Banger (Probolinggo), Bisoeki (Besoeki) dan Panaroekan (Penarukan);
  • Bagian barat dibatasi oleh La Madjang (Lumajang);
  • Bagian Selatan merupakan lautan yang terhampar deretan dari barat ke timur pantai laut Selatan;
  • Bagian timur berbatasan dengan Blambangan (oosten Blambangan = Blambangan timur).

Wilayah Poegar ini, seperti yang disebutkan Thomas Horsfield, dikenal sebagai het westersche Blambangan (Blambangan Bagian Barat). Selain Poegar sebagai suatu kewilayahan, Poegar juga disebut sebagai De Hoofdplaats ligt aan’t Zuider-strand (Ibukota yang terletak di Pantai Selatan).

Horsfield dari kota Poegar melakukan kunjungan ke Dessa Sabran (desa Sabrang). Kemudian dilanjutkan perjalanan menuju dekat dengan perbatasan Blambangan, Horsfield sampai di suatu tempat di Pantai Selatan yang dia sebut sebagai Batoe-oeloe.

Hal ini menunjukkan, bahwa penamaan Batoe-oeloe (sekarang dikenal sebagai Watu Ulo) telah ada pada tahun 1806 dan telah dikenal oleh bangsa Eropa seperti ditunjukkan dalam catatan perjalanan Thomas Horsfild yang dilakukan pada bulan Juni 1806. Dalam berita-berita Eropa lainnya disebut dengan sebutan lainnya, antara lain disebut sebagai Batoe oeler atau Watoe Oeloh.Hal ini menunjukkan Batoe Oeloe merupakan salah satu tempat kunjungan (excursie).

Nach ….. itu bukti awal bahwa Watu Ulo telah mendunia sejak tahun 1800-an. Dengan demikian, nama Watu Ulo dengan berbagai penyebutan yang senada telah ada sebelum tahun 1800 sebagai bagian Wilayah Poegar (Blambangan Barat) yang terletak di dekat perbatasan Poegar dengan Blambangan (Blambangan Timur).

Selanjutnya …………….. terbukti ada pembedaan antara Watu Ulo dengan Kampung Ulo ….. ini dibuktikan dari kunjungan penelitian

Verbeek dan Fennema Description Geologique De Java Et Madoura yang diterbikan pada tahun 1896

  • Menjelaskan bahwa Kali Sanen mengalir bermuara di Watoe Oulo dengan anak sungai Kali Mayang (halaman 59)
  • Lebih detil lagi menjelaskan: Watoe Oulo merupakan sebuah desa yang terletak di pantai timur dari Puger, di sini ditemukan beberapa pulau seperti P Sarat, P Toumpang, P Srojo, dan beberapa pulau kecil lainnya. Bukit Srojo merupakan pulau yang terbesar dengan ketinggian sekitar 108 meter dpl (halaman 61).

Penggambaran tentang letak Kampoeng Watoe Oulo yang ada pada tahun 1863 dapat dilihat dari peta geologi dari Verbeek dan Fennema Carte Geologique De Java Et Madoura Et Feuilles Annexes.
Posisi jelas letak Kampoeng Watoe Oelo digambarkan oleh H. Witkamp dalam tulisannya “De Omgeving Van Watoe Oeloh (Besoeki)” yang dimuat dalam jurnal ilmiah De Tropische Natuur: Orgaan Van De Nederlandsch Indische Natuurhistorische Vereening, November 1938, halaman 185 sampai 192. Kg (Kampoeng) Watoe Oulo itu merupakan Kampung Nelayan Payangan saat ini yang terdapat beberapa pulau, yaitu: P Serini, P Sarat, P Mantikan, P Toempang, P Sraja, P Pawon serta P Mangek.

Itu dulu ya ….. cerita tentang riwajat dahoeloe kala dari Watu Ulo.

Oh ya …. Sebelum diakhiri sementara  bagian tulisan ini ……. Terdapat informasi bahwa makam tua yang sejak tahun 1920-an sudah diidentifikasi keberadaan sebagai pemangku Kampung Watu Ulo adalah makam PA MANGKOE ……………. Untuk informasi lebih detilnya tentang makam PA MANGKOE … penulis akan melakukan ziarah ke makam PA MANGKOE serta menggali informasi dari masyarakat tentang PA MANGKOE itu siapa sebenarnya dan bagaimana kiprahnya di masa hidupnya …………. Tunggu kabar selanjut nya ………………. (To Be Continued)

Sumber:
Thomas Horsfield “Reis Naar De Ooster Streken Van Java” yang diterbitkan pada tahun 1807.
Dr. R. D. M. Verbeek et R. Fennema, Description Geologique De Java Et Madoura, Tome I,  Amsterdam: Joh. G. Stemler Cz., 1896.
Dr. R. D. M. Verbeek et R. Fennema, Carte Geologique De Java Et Madoura Et Feuilles Annexes, Amsterdam: Joh. G. Stemler Cz., 1896.
H. Witkamp, “De Omgeving Van Watoe Oeloh (Besoeki)” yang dimuat dalam jurnal ilmiah De Tropische Natuur: Orgaan Van De Nederlandsch Indische Natuurhistorische Vereening, November 1938, halaman 185 sampai 192.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar