Minggu, 10 Juli 2016

ASAL OESOEL BATOE OELER (TERBENTUKNYA WATU ULO) (Bagian 1)




Oleh
Y. Setiyo Hadi

Penamaan unsure alam seringkali diasosiasikan dengan kehidupan binatang maupun unsure alam lainnya untuk mempermudah penunjukan atau identifikasi suatu tempat. Hal ini terjadi dengan batu yang bersisik bagaikan ular yang terbentuk dari proses alam kemudian disebut oleh warga secara turun temurun sebagai Batoe Oeler atau Watu Ulo.

Terbentuknya bebatuan merupakan bagian dari kajian geologi yang terkait dengan sejarah alam (natuurhistorisch). Masyarakat perlu disajikan pemahaman yang rasional serta realistic tentang suatu wilayah dan bukan untuk sekedar mengambil keuntungan materialnya aja, sehingga mengabaikan factor edukasi terhadap perbaikan sumber daya manusia.

Keterangan tentang terbentuknya batu bersisik, yang kemudian dikenal sebagai Watu Ulo, bisa diidentifikasikan dari sumber tulisan Van Verbeek En Fennema: Geologische beschrijving van Java en Madoera 1896 dan juga risalah tulisan dari insinyur pertambangan Y. Koperberg dalam Het Jaarboek Mijnwezen 1899.

Wilayah Watu Ulo di sebelah barat merupakan deretan Pegunungan Watangan dan di sebelah timur dibatasi dengan Kali Majang. Verbeek mencatat bahwa wilayah ini terdapat batuan mineral berupa batuan konglomerat, batuan kapur dan batuan breksi yang berasal karena proses vulkani dan didominasi material andesit. Batuan ini merupakan terjadi dari proses letusan gunung berapi, demikian yang dinyatakan oleh Verbeek.

Verbeek juga mencatat ditemukan pula berbagai fosil, diantaranya karang dan foraminifera yang berada dilapisan yang dibentuk pada era Miosen. Era Miosen ini merupakan skala waktu geologi  yang berlangsung antara 23 juta tahun sampai 5 juta tahun yang lalu.

Sedikit mengenai foramanifera, Foraminifera bentik hidup di lapisan sedimen hingga kedalaman beberapa puluh sentimeter, sedangkan Foraminifera planktonik hidup didaerah perairan. Foraminifera planktonik tersebar luas di laut-laut terbuka dengan kedalam air lebih dari 10 meter. Brdasarkan ukuran mikroskopis, kekerasan cangkang, serta sebaran geografis dan geologisnya,  jenis hewan ini sangat potensial untuk digunakan sebagai petunjuk kondisi suatu lingkungan, baik pada masa kini maupun masa lalu.

Penyebutan Kampoeng Watoe Oelo, seperti yang dicatat dan dipetakan oleh Verbeek, Verbeek memperlihat yang dimaksud Kampoeng Watoe Oelo pada tahun 1896 berlokasi di pantai Payangan (desa Sumberejo Ambulu). Kampoeng Watoe Oelo dalam penggambaran Verbeek di sana terdapat jajaran pulau kecil, yaitu: Pulau Srini, Pulau Sarat dan Pulau Srojo.

Pulau Srojo terletak di paling timur yang juga dikitari pulau-pulau kecil lainnya. Pulau-pulau kecil tersebut antara lain P. Pawon, P Pawon, serta deretan P Mantikan, juga P Tumpang. Terbentuknya pulau-pulau ini merupakan magma dari aktifitas vulkanik (gunung berapi).

Sedangkan batu yang bersisik yang dikenal dengan nama Batoe Oeler atau Watoe Oelo yang kemudian disebut sebagai Watu Ulo, dalam penyebutan orang Belanda dengan sebutan de "steenen slang", berada di sisi barat Kampoeng Watoe Oelo. Batu bersisik ini merupakan secara geologis terjadi akibat proses vulkanik yang terjadi ribuan tahun lamanya, di mana aliran lava basalt
juga sampai ke laut.


(To Be Continued)


Kencong, 10 Juli 2016 (Y. Setiyo Hadi)

Sumber:
H. Witkamp, “De Omgeving Van Watoe Oeloh (Besoeki)”, DE TROPISCHE NATUUR, Jaargang 27, November 1938, hlm. 185 sampai 192.
Dr. R. D. M. Verbeek et R. Fennema, Description Geologique De Jawa Et Madoura, Amsterdam: Joh. G. Stemler Cz, 1896.
Dr. R. D. M. Verbeek et R. Fennema,Geologische Kaart Van Java en Madoera, 1896.

1 komentar: