Oleh
Y.
Setiyo Hadi
Penamaan
unsure alam seringkali diasosiasikan dengan kehidupan binatang maupun unsure
alam lainnya untuk mempermudah penunjukan atau identifikasi suatu tempat. Hal
ini terjadi dengan batu yang bersisik bagaikan ular yang terbentuk dari proses
alam kemudian disebut oleh warga secara turun temurun sebagai Batoe Oeler atau
Watu Ulo.
Terbentuknya
bebatuan merupakan bagian dari kajian geologi yang terkait dengan sejarah alam
(natuurhistorisch).
Masyarakat perlu disajikan pemahaman yang rasional serta realistic tentang
suatu wilayah dan bukan untuk sekedar mengambil keuntungan materialnya aja,
sehingga mengabaikan factor edukasi terhadap perbaikan sumber daya manusia.
Keterangan
tentang terbentuknya batu bersisik, yang kemudian dikenal sebagai Watu Ulo,
bisa diidentifikasikan dari sumber tulisan Van Verbeek En Fennema: Geologische
beschrijving van Java en Madoera 1896 dan juga risalah tulisan dari
insinyur pertambangan Y. Koperberg dalam Het Jaarboek Mijnwezen 1899.
Wilayah
Watu Ulo di sebelah barat merupakan deretan Pegunungan Watangan dan di sebelah
timur dibatasi dengan Kali Majang. Verbeek mencatat bahwa wilayah ini terdapat
batuan mineral berupa batuan konglomerat, batuan kapur dan batuan breksi yang
berasal karena proses vulkani dan didominasi material andesit. Batuan ini
merupakan terjadi dari proses letusan gunung berapi, demikian yang dinyatakan
oleh Verbeek.
Verbeek
juga mencatat ditemukan pula berbagai fosil, diantaranya karang dan
foraminifera yang berada dilapisan yang dibentuk pada era Miosen. Era Miosen
ini merupakan skala waktu geologi yang
berlangsung antara 23 juta tahun sampai 5 juta tahun yang lalu.
Sedikit
mengenai foramanifera, Foraminifera bentik hidup di lapisan sedimen hingga
kedalaman beberapa puluh sentimeter, sedangkan Foraminifera planktonik hidup
didaerah perairan. Foraminifera planktonik tersebar luas di laut-laut terbuka
dengan kedalam air lebih dari 10 meter. Brdasarkan ukuran mikroskopis, kekerasan
cangkang, serta sebaran geografis dan geologisnya, jenis hewan ini sangat
potensial untuk digunakan sebagai petunjuk kondisi suatu lingkungan, baik pada
masa kini maupun masa lalu.
Penyebutan
Kampoeng Watoe Oelo, seperti yang dicatat dan dipetakan oleh Verbeek, Verbeek memperlihat
yang dimaksud Kampoeng Watoe Oelo pada tahun 1896 berlokasi di pantai Payangan
(desa Sumberejo Ambulu). Kampoeng Watoe Oelo dalam penggambaran Verbeek di sana
terdapat jajaran pulau kecil, yaitu: Pulau Srini, Pulau Sarat dan Pulau Srojo.
Pulau
Srojo terletak di paling timur yang juga dikitari pulau-pulau kecil lainnya.
Pulau-pulau kecil tersebut antara lain P. Pawon, P Pawon, serta deretan P
Mantikan, juga P Tumpang. Terbentuknya pulau-pulau ini merupakan magma dari
aktifitas vulkanik (gunung berapi).
Sedangkan
batu yang bersisik yang dikenal dengan nama Batoe Oeler atau Watoe Oelo yang
kemudian disebut sebagai Watu Ulo, dalam penyebutan orang Belanda dengan
sebutan de "steenen slang", berada di sisi barat Kampoeng
Watoe Oelo. Batu bersisik ini merupakan secara geologis terjadi akibat proses
vulkanik yang terjadi ribuan tahun lamanya, di mana aliran lava basalt
juga sampai ke laut.
(To Be Continued)
juga sampai ke laut.
(To Be Continued)
Kencong,
10 Juli 2016 (Y. Setiyo Hadi)
Sumber:
H.
Witkamp, “De Omgeving Van Watoe Oeloh (Besoeki)”, DE TROPISCHE NATUUR, Jaargang
27, November 1938, hlm. 185 sampai 192.
Dr.
R. D. M. Verbeek et R. Fennema, Description Geologique De Jawa Et Madoura,
Amsterdam: Joh. G. Stemler Cz, 1896.
Dr.
R. D. M. Verbeek et R. Fennema,Geologische Kaart Van Java en Madoera,
1896.

Sikp...
BalasHapus