Penerjemahan
Dari Sumber:
C. J. Bosch,
“Aanteekeningen Over De Afdeeling Bondowoso (Residentie Bezoeki)”, dalam TIJDSCHRIFT INDISCHE VOOR TAAL-, LAND- EN
VOLKENKUNDE UITGEGEVEN DOOR HET BATAVIAASCH GENOOTSCHAP VAN KUNSTEN EN VETENSCHAPPEN;
Onder Redaktie Der Heeren P. Bleeker, J.
Munnich En E. Netscher. Deel VI Nieuwe Serie. Deel III. BATAVIA: LJlWOE de C O.,
1857. p. 469 – 508
Tentang Perlawanan Ario
Galedak pada Halaman. 483 sampai 486
Ditulis
oleh C. J. Bosch di Bondowoso November 1848,
dan
diterbitkan pada tahun 1857
Pada
masa hidupnya Ki Ronggo Kertonegoro (Bupati Pertama Bondowoso)
Diterjemahkan Oleh:
Y.
Setiyo Hadi
(Museum
Boemi Poeger)
081232299854
KENCONG – JEMBER
09
Maret 2016
Pada tahun 1801 Kiai Toemoenggoeng meninggal dunia.
Menantunya Kiai Prawiro Adhi Widjojo, Ronggo dari Besoeki (Ronggo Van Besoeki)
menggantikannya sebgai Regent Van Poeger (Bupati Poeger) pada tahun 1802, dengan nama dan gelar Kiai
Toemoenggoeng Soerio Adhi Ningrat, dan menetap di Bondowoso.
Pada tahun-tahun itu muncul banyak rovers (para
perampok) di pantai selatan, namun mereka selalu kalah oleh Patih van Poeger
(Patih Poeger), Soero Widjojo, yang terkenal seringkali mencoba keberaniannya
(pen. pamer kesaktian).
Pada tahun 1802 di Bondowoso dikirim Tuan Stevens,
yang berkaitan dengan komite dagang kopi. Dia (Tuan Stevens) adalah penggiat
pertama perdagangan kopi dan orang Eropa pertama yang tinggal di sana (Bondowoso).
Pada tahun 1808 Mantri Wedhono Kerto Negoro, yang masih hidup dan ayah dari
Ronggo sekarang (pen. saat penulis Bosch menulis artikel ini pada tahun 1848),
ditunjuk sebagai Patih Van Bondowoso, sementara itu pada tahun yang sam de
kontingenten dihapuskan, dan Marsekal Daendels member beban 500 spaansche
pertahunnya untuk Regentschap Poeger, juga mencatat bahwa salah satu dari anak
Toemenggoeng akan menjadi petugas yang melakukan layanan militer, dengan
pangkat Serjant dengan membawahi 24 orang, dia harus membawa dan memilih
anak-anak para mantra. Untuk menghargainya akan diberikan kepada Serjant
sebesar 4 Djong Sawa dan untuk setiap prajurit (bawahannya) sebesar 1 Djong,
sementara itu tanah dikerjakan untuk diambil keuntungan terhadap orang-orang,
tanaman dan hasil panen. Toemoenggoeng memberikan fasilitas kendaraan dan
membaya para prajuritnya. Mereka dikirim ke Pasoeroean untuk dijadikan Djajang
Sekar.
Pada tahun 1811 Toemoenggoeng Soerio Adhi Ningrat
dipindahkan ke Bezoeki, dengan gelar Adipati dan menjabat sebagai Regent van
Besoeki.
Bekas Regentschap Poeger melemah (pen. turun
pamornya), kemudian ditentukan, menjadi nama Bondowoso, yang berada dibawah
(kuasa) Kerto Negoro, menjadi Patih Van Bondowoso, dan menjadi bagian dari
Regentschap Bezoeki.
Walaupun pada akhir tahun 1811 Orang Inggris
(Engelschen) menduduki wilayah Pulau Jawa, tidak membawa pengaruh dalam urusan
Regentschap Besoeki, dan segalah sesuatu tetap sama sampai tahun 1813.
Permulaan pada tahun akhir di Besoeki ditempatkan
sebagai Resident Tuan Roxburg; untuk pertama kali terwujudnya otoritas wilayah
(kabupaten) dipercayakan kepada seorang pejabat bangsa Eropa.
Pemberontakan yang terjadi di Probolinggo yang
melibatkan orang Cina yang menguasai wilayah ini tewa, maka Probolinggo,
Bezoeki dan Panaroekan ditempatkan di bawah pengelolaan Gouvenements
(Pemerintah Kolonial).
Pedalaman, bagian wilayah ini dan Loemadjang
senantiasa dianggap sebagai milik Gouvernements, sehingga Pemerintah Inggris,
pada akhir tahun 1812, juga berusaha masuk dalam het landelijk stelsel (system
sewa tanah), seperti di tempat lain di
Jawa. Kenyataannya mengalami banyak kesulitan, terutama factor pribumi, yang
menginginkan uang tunai, posisi luar untuk memenuhi kebutuhan dan financial,
dihasilkan dari sedikit perdagangan, ternyata tidak bisa menghasilkan uang
lebih banyak.
Kekakuan / paksaan akan pembayaran pajak tanah di
wilayah ini, mengakibatkan penentangan dari Ario Galedak dengan perlawanan
bersenjata terhadap pemerintah.
Ario Galedak ini memiliki rumah di desa Tempe,
afdeeling Lamadjang, dan mengaku dirinya sebagai keturunan Wirod Dhi Ningrat.
Karena itu ia mampu memperoleh pendukungnya di
wilayah Lamadjang, serta berkembang di Poeger, (di Poeger) ia memaksa patih
(Poeger), Rekso Negoro, untuk memilih bergabung dengan dia, dan berangkat
bersama ke Bondowoso, setelah memiliki pendukung yang cukup besar, di mana
semua penduduk desa sepanjang jalan yang dilewati, dipaksa untuk mengikutinya.
Tujuannya adalah untuk menjadi Penguasa (master) di seluruh pojok timur
(oosthoek), dan kemudian juga menguasai Pasoeroean sampai Soerabaja, juga
tempat itu dengan kejutan. Juga seperti biasanya menjadikan Agama berperan
utama dalam janjinya, seperti yang telah dijanjikan pada banyak orang, bahwa, menghilangkan
orang Eropa dari Jawa, akan bebas dari semua pajak dan kerja paksa. Tanpa
hambatan Ario Galedak dating sampai dekat Sentong, tidak jauh dari Pesanggrahan
van Bondowoso, tatkala ditemui oleh patih van Bondowoso, Kerto Negoro, sekitar
500 orang, dengan bersenjatan dan bertombak, telah berkumpul, dan dia
(Kertonegoro) mencegah rencana penaklukan untuk terus dilanjutkan.Dua tenda
dibuat seperti yang diinginkan, karenanya, tembakan pertama dikeluar sehingga
pecah pertempuran, tewaslah Abd’oer-azit, salah satu pimpinan pemberontak, dan,
setelah beberapa tembakan, menyambut lainnya yang baru datang.
Kemenangan berada dipihak Patih Kerto Negoro,
dipihaknya (Patih Kerto Negoro) hanya satu yang tewas; di pihak pemberontak
terdapat 17 yang tewas dan banyak yang luka. Ario Galedak berusaha melarikan
diri, dalam keadaan terluka, dia melarikan diri kembali ke desa Djambe-arom,
terkejar dan dibunuh.
Patih Poeger, Rekso Negoro, ditangkap di Desa
Patrang, kemudian dikirim ke Bezoeki dan kemudian bersama 40 orang yang
merupakan pengikut Ario Galedk dibuang / diasingkan ke Bandjermasin.
Diunggah,
30 Juni 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar